Sabtu, 11 Mei 2013

Skripsi: Ester dan mencito (2)

Saya lanjutkan kisah tentang skripsi lagi ya, sekarang saya dalam masa kejenuhan untuk melanjutkan percobaan. Jadi saya lanjutkan cerita bagaiman saya skripsi sambil mereview apa yang saya kerjakan dulu
Setelah senyawa calon obat dibuat, langkah selanjutnya adalah diuji kemurnian dan identifikasi struktur. Hal ini untuk membuktikan "sesuatu" yang sudah saya sintesis itu benar-benar murni kah? benar-benar dengan struktur yang saya inginkan kah?.
Oleh karenanya ini tahap yang menentukan jika senyawa yang saya sintesis itu murni tidak ada campuran yang lain, jika ada campuran saya harus melakukan rekristalisasi atau senyawa yang saya buat benar-benar memiliki struktur yang saya ingingkan, jika tidak saya harus mengulang tahapan sintesis sejak awal.
Uji kemurnian yang saya lakukan dengan metode titik lebur dan kromatografi lapis tipis.Uji titik lebur uji untuk melihat suhu mulai melebur suatu zat hingga seluruh zat melebur.Uji titik lebur menggunakan alat Fisher-John dengan cara mengintip. Karena senyawa ini lebih lipofil dari parasetamol diprediksi titik leburnya diatas parasetamol. Tapi ternyata prediksi hanyalah prediksi, senyawa saya lebih rendah dari parasetamol titik leburnya. Tapi dengan tenangnya Prof Sis menjawab " Tidak apa, apa, tidak selalu lebih tinggi..." sungguh menenangkan hati. Sedangkan untuk uji kromatografi lapi tipis, menggunakan campuran eluen yang berbeda kepolarannya. Disinilah mulai diuji namanya kesabaran, untuk mencari eluen waktu yang dibutuhkan sangatlah lama, tidak 1 atau 2 hari saja. Saya dan teman-teman harus mencoba berbagai eluen dari metanol, aseton, n-heksan dll, menghabiskan berlembar-lembar plat. Hampir setiap hari di lab dan bermain eluen kadang bahkan membuat tubuh kami lemah karena menghirup eluen yang menguap. Pencarian eluaen ini gampang-gampang susah, dan tantangannya kami harus mencari 3 campuran, jika menemukan satu saja cukup sulit apalagi menemukan 3. Kesulitan yang sering kami alami adalah noda yang tiba-tiba hilang, plat yang ada noda keritingnya dan pealrut yang menguap. Tapi Alhamdulillah selalu saja ada kemudahan.
Setelah menemukan 3 eluen tersebut beralih ke tahapan selanjutnya yaitu identifikasi struktur menggunakan instrumen, yaitu spektro UV-Vis, IR dan H-NMR. Spektro UV-Vis untuk melihat bahwa panjang gelombang maksimal dari senyawa yang saya sintesis ternyata sudah berubah dan bergeser dibandingkan parasetamol. Secara teori senyawa yang saya sintesis harusnya bergeser ke kanan tapi sebagian besar kami justru senyawanya bergeser ke kiri. Tapi dengan tenangnya Prof Sis menjawab " Tidak apa, apa, tidak selalu bergeser ke kanan meskipun baktokromik " Sungguh menenangkan. Sedangkan untuk spektro IR dan H-NMR ternyata alat yang dimiliki fakultas masih dalam keadaan kurang sehat, jadi terpaksa kami mencari alat yang dimiliki universitas yang lain, dalam artinya saya harus membayar cukup mahal. Untuk uji kemurnian dengan spektro IR kami mengujinya di Fakultas Farmasi Universitas Ubaya (kami ke sana sendiri lo.. seperti rombongan orang hilang dikampus orang), sedangkan untuk uji kemurnian menggunakan H-NMR kami menitipkan sampel pada murid pembimbing kami yang sedang studi di ITB untuk mengujinya (dan ini adalah masa menunggu paling lama). Hasil dari kedua uji tersebut dapat disimpulkan bahwa senyawa yang saya sintesis sudah benar strukturnya (harus yakin!!).
Setelahnya baru bisa senyawa saya ini di uji aktivitas.. ini tahapan yang hingga sekarang belum saya selesaikan, jika berhasil saya akan ceritakan dengan lengkap!!
#semangat skripsi

1 komentar:

  1. Wah keren...skripsinya sintesis nih yeeey (ngebayangin udah males--> gak terlalu interest dgn kimia organik dan elusidasi)

    BalasHapus